24 Dec 2025

Tafsir Surat Al-Adiyat

Tafsir Surat Al-Adiyat

Tafsir Surat Al-'Adiyat (Kuda Perang) menjelaskan peringatan Allah SWT tentang sifat manusia yang sangat mencintai harta, cenderung ingkar (kufur nikmat), dan kikir, meskipun jelas bahwa Allah Maha Mengetahui isi hati mereka dan akan membalas perbuatan di hari kebangkitan.

Surat ini dibuka dengan sumpah Allah menggunakan kuda perang yang berlari kencang, memercikkan api, menyerbu musuh di pagi hari, dan menerbangkan debu, sebagai teladan semangat dan ketaatan yang diinginkan dari manusia. 
Ringkasan Tafsir:

Ayat 1-5 (Sumpah Allah):
Allah bersumpah dengan kuda perang yang berlari kencang (terengah-engah), memercikkan bunga api dari kuku saat menyentuh batu, menyerbu musuh di waktu pagi, dan menimbulkan debu.

Ini adalah gambaran semangat jihad dan ketaatan yang luar biasa, sebagai pengingat agar manusia tidak lalai.

Ayat 6-8 (Sifat Manusia):
Manusia itu sangat ingkar (kufur nikmat) dan cinta harta berlebihan (bakhil/kikir).
Kata "khoir" (kebaikan) di ayat 8 dapat diartikan sebagai harta atau kebaikan secara umum, yang sangat dicintai manusia sehingga ia menjadi kikir.

Ayat 9-11 (Peringatan dan Janji Allah):
Allah mengingatkan bahwa Dia mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati manusia, termasuk ketamakan dan kekikiran mereka.

Pada Hari Kebangkitan, isi dada dan kubur akan dibongkar dan ditampakkan.

Sesungguhnya Allah pada hari itu Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya dan akan membalas semua perbuatan mereka. 
Pelajaran Penting:
Mensyukuri Nikmat: Meneladani semangat kuda perang untuk bersyukur atas nikmat Allah.

Mawas Diri: Sadar akan sifat cinta dunia yang berlebihan dan sifat kikir.
Keyakinan Akhirat: Memahami bahwa semua perbuatan dan isi hati akan dihisab pada hari pembalasan. 

Perbedaan Pendapat Ulama:
Mengenai makna "Al-'Adiyat" (kuda perang), ada perbedaan: sebagian besar ulama (Jumhur) mengartikannya kuda perang karena cocok dengan deskripsi ayat, sementara sebagian lain (seperti Ali bin Abi Thalib) mengartikannya unta-unta haji karena dianggap lebih relevan dengan kondisi Makkah saat itu (belum banyak kuda perang). 

Komentar

Belum ada komentar.

Beri Komentar